Dia adalah anak yang mencuri perhatianku ketika mengajar di TPA hari pertama. Cute, tapi bukan itu alasannya…
salah satunya adalah dia masih kesulitan membaca iqro’ 4 yang ada dihadapannya. Untuk anak seusia dia (kurang lebih 11 tahun) ini diluar kebiasaan, walaupun terkadang ada yang begitu. Saat membaca suaranya kecil sekali, seperti tipikal anak yang pemalu. 15 menit ku habiskan untuk menyimak dia mengaji (dengan terbata-bata), betul-betul ekstra kerja keras. 15 menit cukup membuat beberapa teman dibelakangnya mulai tak sabar dan mendorong-dorong tubuhnya…belum sempat aku mengingatkan teman yang mendorong yuni tersebut (namanya diva) tiba-tiba…..DUGH, tangan yuni sudah mendarat diperut diva. SYOK!! aku bengong beberapa saat, sebelum akhirnya sibuk menenangkan diva yang menangis (pasti, dari suara pukulannya itu cukup keras).
Pertemuan selanjutnya selalu kusempatkan untuk mengajak bicara yuni tentang berbagai hal, dan aku jadi tahu satu hal, anak ini keras, tidak pemalu atau penakut seperti dugaanku sebelumnya. Dia mulai cerita tentang kesulitannya belajar, dari dia juga aku tahu bahwa dia 2 kali tidak naik kelas. Setelah itu mulai ada perubahan yang cukup menyenangkan yaitu kepercayaan dirinya mulai tumbuh, seperti mengaji dengan suara yang cukup lantang, lebih lancar juga mengajinya (saat saya menulis ini dia sudah iqro 6), berani maju untuk menjawab pertanyaan atau menuliskan sesuatu didepan (setelah sebelumnya kukatakan “Yun, tulisannya bagus lho…tulisan arabnya juga rapi”). Puncaknya adalah ketika dia dapat juara 4 lomba kaligrafi yang diadakan oleh TPA itu (ya, diantara temen2 TPAnya sendiri sih), dan menurutku ini kemajuan pesat…
karena di kampus makin sibuk, saya semakin jarang membantu di TPA, terakhir kali (sebulanan yang lalu) yuni bertanya sesuatu “Mba Sil, besok ngajar lagi ga?”, “em, InsyaAllah” jawabku. “Yes, besok ngaji sama mba lagi ya?”.
Kurasa dia menyukaiku………
kayanya ada satu alasan lagi neh buat mantepin resign nya.
. diseriusin itu TPA nya. lebih asik ky gt.